lundi 20 avril 2009

NEW BLOG

I've made this new blog months ago. So it's not actually "new".
Never updated it anyway.
It's like a darker, more serious side of me.

I dunno whether I'm going to keep this "new" blog, I haven't posted anything yet.

But we'll see.

FEEL FREE TO CHECK ANYWAY, FOLKS!!

http://svetlanaanggita.wordpress.com/

p.s. : Does anyone have a suggestion for the blog's title? I'm starting to think that "The Journal of Svetlana Anggita" is sooo N O R A K.

mardi 25 novembre 2008

Tiga Fase Utama Kehidupan Manusia, The "M" Word, dan Keyakinan

This “M” word stands for “marriage”.
Sesuatu yang sempat gue angankan seminggu – dua minggu lalu, tapi sekarang gue malah RAGU setengah mampus sama kata itu.

Gue percaya hanya ada tiga kejadian besar yang dialami manusia: kelahiran, perjodohan (baca: MENIKAH), dan kematian.
Hidup gue sudah memasuki fase dimana gue melihat sendiri temen-temen gue mengalami tiga kejadian tersebut.

Pertama, sampai saat ini, kalo ngga salah juga, gue sudah memiliki empat orang yang gue kenal meninggal. Dan keempat orang ini bukan keluarga maupun saudara. Yang gue maksud “kenal” itu benar-benar mengenal baik ya: saling tahu nama, saling tahu orangnya, pernah berkegiatan bareng, tapi mungkin memang tidak terlalu dekat. Jadi bukan cuma sekedar ngaku kenal, tapi kenyataannya ngobrol aja ngga pernah, dan tahu orangnya yang mana juga malah pas melayat. Yah yang jelas intinya, udah ada unsur KEMATIAN di dalam pengalaman hidup gue.

Kedua, KELAHIRAN. Gue mengenal temen-temen seusia gue yang berani memutuskan untuk membina sebuah keluarga di usia dini. Bukan karena “kecelakaan” atau apa, tapi memang mereka telah merasa siap untuk mengambil keputusan itu (baca: menikah). Dan sebagai konsekuensinya, setelah melakukan “the-you-know-what-thing”,maka kehamilan pun bukan sesuatu yang luar biasa juga. Ok, tapi jujur, menurut gue melihat temen sendiri di kampus dengan perut super buncit karena ada bayi di dalamnya masih merupakan hal yang spektakuler. Kadang gue merinding aja, “Gila lo, dia kan seumuran gue, tapi dia udah harus bertanggung jawab sama jiwa baru di dalam perutnya yang lahir aja belom.” Dan dua bulan lalu, setelah menjenguk temen gue yang baru melahirkan, gue baru mengerti bahwa menanti dan mengalami kelahiran anak sendiri itu bener-bener beda banget sama menanti adik baru yang akan dilahirkan ibu lo. Jauhhh lebih kompleks dan menakutkan, tapi pada akhirnya juga ternyata membawa kebahagiaan yang DAHSYAT pula. Yah, tapi menurut gue masih dominan bagian “nakutin”-nya.

Ketiga, perjodohan atau menikah…the “M” word. Siap-siap ya, bagian ini bakalan paling panjang gue omongin. Sekedar review, tahun 2008 ini BANYAK BANGET orang yang gue kenal MENIKAH. Mulai dari sepupu, senior, sampai temen seumuran. Ada kali ya LEBIH dari sepuluh. Buat gue, kejadian kaya gini masih termasuk hal yang baru. Ok, ngga bener-bener baru juga karena sejak awal kuliah ada temen gue yang udah menikah. Yang baru adalah, kali ini gue merasa betapa BANYAK orang yang gue kenal pada kawinnn! Harusnya gue turut bahagia ya buat mereka. Memang bahagia sih, yet the worst part is, temen-temen seusia dan sepergaulan gue yang masih pacaran udah pada mulai TUNANGAN, atau setidaknya sudah memutuskan “he/she’s’s the one”. Ada juga yang udah nyusun skema blueprint hidup mereka dan memasukkan “their significant other” ke dalam skema tersebut. Gue menyebut tahap ini sebagai tahap PRA-FASE dimana gue mulai ngga asing denger kata-kata kaya:

“Eh, si ini tuh udah tunangan loh sama si itu!” *oke, ini cenderung menggosip memang
“Iya lan, dua keluarga kami udah ketemu kok.”
“Gue sama dia buka rekening tabungan rencana gitu lan, buat persiapan aja ntar.”
“365 days to get married, honey…” *hayo, ini komen siapa di wall siapa hayooo…ahaha
“Bentar lagi bisa serumah dan bisa ngapa-ngapain ni,hehehehe.”
“Padanya gue berlabuh lan, karena kalo gue terus mencari yang sempurna, gue ngga akan berhenti mencari. I’ve decided she’s perfect enough, for me.”
“Aku membuat blueprint hidupku, dan tenang aja, ada kamu di dalamnya. Luv u, dear.” *haha,ini komen sapa ni, hayo ngaku…
“Eh, gue kemaren udah ‘diminta’ sama dia ke bokap-nyokap gue,hihihihihi…”

ASTAGA! GUE JADI SEMAKIN YAKIN YANG GUE RASAIN ADALAH BAHWA: GUE SIRIKKK! GUE BELOM SAMPE (PRA-)FASE ITUUU!

Gimana sih cara orang bener-bener yakin kalo mereka udah menemukan “THE ONE”?
Apakah di jidat mereka terpampang lebar-lebar tulisan “THE ONE”?
Atau ada panah dari langit yang menunjukkan “INI BEGO, YANG INI ‘ORANGNYA’!”.
Atau jangan-jangan setelah meditasi selama 40 hari tanpa makan tanpa minum tanpa pipis tanpa boker bisa membantu menemukan jawabannya?

Selama ini gue adalah seorang yang naif yang tiap punya pacar ngga pernah mikir sampe situ. Yah, sama si yang dulu sih sempet kepikiran “ah ini dia kali aja ORANGNYA”. Abis pacarannya kan lumayan lama juga yaa, tapi kenyataannya (di)putus juga. Nasibb.

*selamat lan, anda berhak meraih predikat sebagai ratu curhat colongan.

Fyi, dialog-dialog yang tadi gue tulis di atas itu diucapkan oleh orang-orang yang hitungan pacarannya paling lama dua tahun lho. Masih jauh lebih lama rekor pacaran gue kemaren…TAPI KENAPA MEREKA UDAH BISA SEYAKIN ITU SAMA PASANGAN MEREKA?
APA MEREKA NGGA SADAR KALO MEREKA BAKALAN TINGGAL BARENG PULUHAN TAHUN?
KENAPA MEREKA BISA BERPIKIR “IT’S NO BIG DEAL” DENGAN KOMITMEN?

Hal ini pernah gue omongin sama salah satu orang paling dekat sama gue alias nyokap. Berikut percakapan antara gue si Anak Gadis (AG) dengan nyokap gue si Nyokapnya Gadis (NG):
AG: Mah, knapa si mah orang bisa memutuskan untuk menikah sama pasangannya?
NG: Ya, karena udah YAKIN.
AG: Haah, YAKIN gimana si? Bukan karena SEKS apa gimana gitu?
NG: Yaaahh…kalo jaman sekarang sih kalo mau ngeSEKS sih ngga usah nikah juga bisaaa,hahahhaha. EH TAPI KAMU JANGAN GITU LHO.

Iya, gue tau informasi yang diberikan nyokap gue ngga memberi nilai tambah atas permasalahan yang ada di tangan selain:
1. YAKIN itu PENTING.
2. SEKS bisa saja dilakukan SEBELUM menikah. Jadi seks bukan alasan utama kenapa orang harus menikah.
3. Gue ngga boleh melakukan poin ke 2.

Gue mulai sadar sepenuhnya kenapa gue belom menemukan “The One” itu adalah karena gue BELUM YAKIN. Sebaliknya, gue juga belum menemukan orang yang YAKIN sama gue. Dan yang parah adalah, gue dari tadi ngomongin yakin-yakin mulu nih, tapi sebenarnya gue masih belum bisa mendefinisikan: APA SIH SEBENERNYA YANG DIMAKSUD DENGAN KEYAKINAN PADA SESEORANG?

That’s the one million dollar question, baby.
And you still have the chance phone a friend, ask the audience, or do the 50:50 option.
Or, you might just walk away, yet you can still bring the five hundred thousand dollars back home.

Umur gue masih dua puluh tahun. Jalan masih panjang.
I really should stop fussing and sweat about those stuff.
Bukankah saat ini ada hal yang harusnya bikin gue jauh lebih panik: satu skripsi, satu tulisan, tiga tugas kuliah, dan jemuran yang harus segera diangkat karena sekarang hujan?


*dimuat juga di notes Facebook

vendredi 31 octobre 2008

adhitia sofyan


Uh sumpah lagu-lagunya enak.
Dulu pernah punya satu mini-album.
Trus karena si laptop error-lita, HILANG GITU AJA LOH SMUA.

huhuhuhu.

Tapi sekarang senang sekali bisa menemukan dan mengunduhnya gratis.
Free stuff isn't always cheesy :)

*bersenandung ria menanti pengunduhan lagu selesai, syalalala~

mercredi 29 octobre 2008

so yesterday

Plurk, Twitter, Tumblr, and Facebook.
They make blogs looks so YESTERDAY.
I once made a presentation about blogs and internet at Law and Sociology class.
I classified—aduh iya, sok tahu dan nekat si emang—internet as the part of “Public Sphere” theory from Jürgen Habermass.

Jadi inget seseorang. Panggil aja D.
L : Iya, jadi aku ngaitin itu sama teorinya Habermass. Ada korelasinya ngga si sbenernya?
D : Lah, ngga tau…kalo menurut kamu gimana emang?
L : Ah gimana si, kan kamu yang anak sosiologi. Anak hukum mana ngerti??
D : Abis kalo menurut anak-anak sosio Habermass itu sok tahu. Teori-teorinya..blah,blah,blah..
*sorry gue lupa waktu itu dia ngomong apa. Ah bilang aja belom belajar sampe situ. Dasar anak 2007. Badan doang GEDE, tapi ngambekan kaya bocah (loh, curcol).

Ok, back to the subject.
Then I correlated this theory with blogs as another part of journalism: citizen journalism.
Later we discussed that there should be a product of regulation concerning about these things, but then we thought, should there be a regulation anyway, since it might cause restrictions and repressiveness from the government.
So we related it to the freedom of speech/expression from the human rights.
*jah,ribet. Gue-nya sotoy pulak. Tapi abis itu dapet A sih, haiyaa~

The point of this posting is not about Habermass’ theory or my friend D, but what I think about blogs and the invasion of Facebook, Plurk, etc.
Thus, I might be ranting and protesting about plurk etc ruining the spirit of citizen journalism,but, hey:
1. I have a Plurk account (and Facebook).
2. I don’t do much citizen journalism on my blog. Mostly it’s me moaning on life. Lol.
Besides I never updated my Plurk frequently, and I don’t fucking care about the karma.
And people still reads my blog! *ok nyet,dikit si emang.

I don’t give a shit, mate.
I love blogging and whatever they say, I’ll keep on doing it ;-)

mardi 28 octobre 2008

the best part

This is the best part of today.

Ya, duduk di depan laptop ditemani sebatang rokok, secangkir kopi hitam tanpa gula—yep, I prefer it bitter—serta diiringi suara hujan yang menitik di atas genting.
*jadi kaya lagu bocah, minus laptop, kopi dan rokoknya.
Dan ya, bagi teman-teman saya yang akan mengomeli saya panjang lebar setelah membaca posting-an ini: I guarantee you, there’ll be no more cigarettes. At least for this month. You all know I’m not a frequent smoker though.

Hari ini saya tidak ke kampus. Tidak pula ke kantor.
Saya memulai pagi dengan meng-copy beberapa film ke laptop: Lock, Stock, and Two Smoking Barrels; Michael Clayton; dan, oui, Persepolis.
Ah…j’aime bien Persepolis. A must watch.

Lalu teringat ada titipan yang harus dibawa ke Depok, jadi kemudian saya pergi ke Pasar Beringharjo bersama Mba Reni—teman kost.
Dari Pasar Beringharjo terlihat banyak iring-iringan orang, kegaduhan yang tidak biasa, bahkan menjumpai beberapa teman dari FMN—Forum Mahasiswa Nasional—melakukan semacam aksi demonstrasi di Malioboro.

Okay, so there’s this event: PISOWANAN AGENG.

Inilah klimaks dalam rangka menyambut ulang tahun kota Yogyakarta.
Bagian dimana Sultan “sowan” kepada rakyatnya, dan biasanya diakhirii pidato dari Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Menyesal karena lupa ada event yang begitu penting yang seharusnya dapat diabadikan dalam kamera SLR Mba Reni, kami toh ikut dalam keramaian dan bergegas menuju Alun-Alun Utara.
Hari ini menjadi hari dimana Sultan akan menyampaikan hal yang sangat penting, tidak hanya bagi dirinya, bagi kota ini,atau bagi masyarakatnya, tetapi juga bagi (dunia perpolitikan) Indonesia.

Teriakan-teriakan itu berkoar di alun-alun.
Yogyakarta adalah istimewa!
Hidup Sultan!
Sultan untuk Indonesia!

Baru kali itu saya melihat: sebuah kota dimana masyarakatnya begitu mencintai pemimpinnya.
Begitu mencintai dan menghormati figur tersebut.
Dan betapa pemimpin mereka pun terlihat sangat mencintai kota dan masyarakatnya.

Mendung begitu gelap.
Bau tanah yang lembap pun menguar karena akhirnya turun hujan—walaupun sangat rintik—di Alun-Alun Lor siang itu.
Pidato hanya berlangsung singkat. Mungkin tidak sampai 10 menit.
Pidato yang menekankan secara eksplisit: Ngarsa Dalem Sri Sultan HB X akan maju dalam pemilihan presiden 2009 mendatang.
Pidato yang diakhiri tepuk tangan yang massif dari para hadirin di alun-alun itu, disertai pekik-pekik:
“Hidup Sultan!”
“Hidup Yogyakarta!”
“Hidup Indonesia!”

Begitu Sultan turun dari panggung dan orang-orang berbalik meninggalkan alun-alun, tidak butuh waktu lama untuk hujan turun dengan derasnya.
Saya pun pergi, dengan sebuah beban pikiran.
Tapi tidak akan saya katakan, setidaknya tidak sekarang.

Malam ini dingin karena hembusan angin yang turut dibawa oleh hujan yang turun.
Cangkir saya sudah kosong, rokok saya pun habis.
Kali ini hanya tersisa saya, hujan, laptop, dan vokal Robert Smith di lagu Just Like Heaven.

It’s still the best part of today.
And it’s seven minutes before tomorrow.

lundi 27 octobre 2008

lagi-lagi tidak produktif

tommy indrajaya: weits
Lana : hehe
tommy indrajaya: akhrnya lo ngmng gmn ?
Lana : gue smalem brantem tom

*punteun yeuh, cerita berikutnya bukan untuk konsumsi publik. nyihaa~

tommy indrajaya: berarti lo emg harus cari yg lain lan
tommy indrajaya: hahaha
Lana : :))
tommy indrajaya: sabar yaa..
Lana : jelassss. gpp ko tom
tommy indrajaya: hehe.

masaoloh lan.bukannya ngerjain laporan,malah ym-an.
penyalahgunaan fasilitas kantor dipake buat curahan hati.
btw,thanks tom.

ego

Ego kami masing-masing sungguh besar.
Dan memang cukup lama telah dirasakan ketidakcocokan dan ketidakmampuan kami untuk bersinergi satu sama lain.
Jadi, kami memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang bahkan tidak pernah dimulai ini.
“Sebaiknya tidak ada ‘besok’ bagi kita,” katanya.
Ya, saya juga setuju. Tapi kamu tidak pernah memberikan kesempatan bagi saya untuk mengatakannya.
Baiklah, dengan begitu saya juga tidak perlu menunggu. Tidak perlu lagi berharap.
Kita masih muda, dan nyatanya sama-sama belum dewasa.
Faktanya, kita, ah lebih tepatnya, kamu, tidak (atau belum) berniat mengakhirinya seperti selayaknya sebuah hubungan harus berakhir.
Hubungan fiktif ini dibangun dan dikonstruksikan secara harmonis dan aku harap—jika harus, dan memang kenyataannya begitu—berakhir, maka sebaiknya itu adalah sebuah happy ending.

Tidak,bagi saya happy ending tidak harus selalu berarti sang tokoh utama harus berakhir hidup bahagia bersama significant other-nya.
Happy ending bisa saja merupakan situasi dimana masing-masing tokoh berhasil menemukan jalan mereka masing-masing to move on, with no hard feelings for each other or anyone else.

Well, there's one for sure.
We both knew that we’re not ready for a new relationship.

vendredi 24 octobre 2008

pengen pengen pengen

Belikan saya ini:


atau ini:

atau ini:


atau TIGA-TIGANYA!

ahahah.

yep.saya suka suka suka sekali ZIPPO. but i'm not a smoker though ;-)

disorientation

Terimakasih EFEK RUMAH KACA.

Karena saya muak dengan (semua) lagu cinta.