mardi 25 novembre 2008

Tiga Fase Utama Kehidupan Manusia, The "M" Word, dan Keyakinan

This “M” word stands for “marriage”.
Sesuatu yang sempat gue angankan seminggu – dua minggu lalu, tapi sekarang gue malah RAGU setengah mampus sama kata itu.

Gue percaya hanya ada tiga kejadian besar yang dialami manusia: kelahiran, perjodohan (baca: MENIKAH), dan kematian.
Hidup gue sudah memasuki fase dimana gue melihat sendiri temen-temen gue mengalami tiga kejadian tersebut.

Pertama, sampai saat ini, kalo ngga salah juga, gue sudah memiliki empat orang yang gue kenal meninggal. Dan keempat orang ini bukan keluarga maupun saudara. Yang gue maksud “kenal” itu benar-benar mengenal baik ya: saling tahu nama, saling tahu orangnya, pernah berkegiatan bareng, tapi mungkin memang tidak terlalu dekat. Jadi bukan cuma sekedar ngaku kenal, tapi kenyataannya ngobrol aja ngga pernah, dan tahu orangnya yang mana juga malah pas melayat. Yah yang jelas intinya, udah ada unsur KEMATIAN di dalam pengalaman hidup gue.

Kedua, KELAHIRAN. Gue mengenal temen-temen seusia gue yang berani memutuskan untuk membina sebuah keluarga di usia dini. Bukan karena “kecelakaan” atau apa, tapi memang mereka telah merasa siap untuk mengambil keputusan itu (baca: menikah). Dan sebagai konsekuensinya, setelah melakukan “the-you-know-what-thing”,maka kehamilan pun bukan sesuatu yang luar biasa juga. Ok, tapi jujur, menurut gue melihat temen sendiri di kampus dengan perut super buncit karena ada bayi di dalamnya masih merupakan hal yang spektakuler. Kadang gue merinding aja, “Gila lo, dia kan seumuran gue, tapi dia udah harus bertanggung jawab sama jiwa baru di dalam perutnya yang lahir aja belom.” Dan dua bulan lalu, setelah menjenguk temen gue yang baru melahirkan, gue baru mengerti bahwa menanti dan mengalami kelahiran anak sendiri itu bener-bener beda banget sama menanti adik baru yang akan dilahirkan ibu lo. Jauhhh lebih kompleks dan menakutkan, tapi pada akhirnya juga ternyata membawa kebahagiaan yang DAHSYAT pula. Yah, tapi menurut gue masih dominan bagian “nakutin”-nya.

Ketiga, perjodohan atau menikah…the “M” word. Siap-siap ya, bagian ini bakalan paling panjang gue omongin. Sekedar review, tahun 2008 ini BANYAK BANGET orang yang gue kenal MENIKAH. Mulai dari sepupu, senior, sampai temen seumuran. Ada kali ya LEBIH dari sepuluh. Buat gue, kejadian kaya gini masih termasuk hal yang baru. Ok, ngga bener-bener baru juga karena sejak awal kuliah ada temen gue yang udah menikah. Yang baru adalah, kali ini gue merasa betapa BANYAK orang yang gue kenal pada kawinnn! Harusnya gue turut bahagia ya buat mereka. Memang bahagia sih, yet the worst part is, temen-temen seusia dan sepergaulan gue yang masih pacaran udah pada mulai TUNANGAN, atau setidaknya sudah memutuskan “he/she’s’s the one”. Ada juga yang udah nyusun skema blueprint hidup mereka dan memasukkan “their significant other” ke dalam skema tersebut. Gue menyebut tahap ini sebagai tahap PRA-FASE dimana gue mulai ngga asing denger kata-kata kaya:

“Eh, si ini tuh udah tunangan loh sama si itu!” *oke, ini cenderung menggosip memang
“Iya lan, dua keluarga kami udah ketemu kok.”
“Gue sama dia buka rekening tabungan rencana gitu lan, buat persiapan aja ntar.”
“365 days to get married, honey…” *hayo, ini komen siapa di wall siapa hayooo…ahaha
“Bentar lagi bisa serumah dan bisa ngapa-ngapain ni,hehehehe.”
“Padanya gue berlabuh lan, karena kalo gue terus mencari yang sempurna, gue ngga akan berhenti mencari. I’ve decided she’s perfect enough, for me.”
“Aku membuat blueprint hidupku, dan tenang aja, ada kamu di dalamnya. Luv u, dear.” *haha,ini komen sapa ni, hayo ngaku…
“Eh, gue kemaren udah ‘diminta’ sama dia ke bokap-nyokap gue,hihihihihi…”

ASTAGA! GUE JADI SEMAKIN YAKIN YANG GUE RASAIN ADALAH BAHWA: GUE SIRIKKK! GUE BELOM SAMPE (PRA-)FASE ITUUU!

Gimana sih cara orang bener-bener yakin kalo mereka udah menemukan “THE ONE”?
Apakah di jidat mereka terpampang lebar-lebar tulisan “THE ONE”?
Atau ada panah dari langit yang menunjukkan “INI BEGO, YANG INI ‘ORANGNYA’!”.
Atau jangan-jangan setelah meditasi selama 40 hari tanpa makan tanpa minum tanpa pipis tanpa boker bisa membantu menemukan jawabannya?

Selama ini gue adalah seorang yang naif yang tiap punya pacar ngga pernah mikir sampe situ. Yah, sama si yang dulu sih sempet kepikiran “ah ini dia kali aja ORANGNYA”. Abis pacarannya kan lumayan lama juga yaa, tapi kenyataannya (di)putus juga. Nasibb.

*selamat lan, anda berhak meraih predikat sebagai ratu curhat colongan.

Fyi, dialog-dialog yang tadi gue tulis di atas itu diucapkan oleh orang-orang yang hitungan pacarannya paling lama dua tahun lho. Masih jauh lebih lama rekor pacaran gue kemaren…TAPI KENAPA MEREKA UDAH BISA SEYAKIN ITU SAMA PASANGAN MEREKA?
APA MEREKA NGGA SADAR KALO MEREKA BAKALAN TINGGAL BARENG PULUHAN TAHUN?
KENAPA MEREKA BISA BERPIKIR “IT’S NO BIG DEAL” DENGAN KOMITMEN?

Hal ini pernah gue omongin sama salah satu orang paling dekat sama gue alias nyokap. Berikut percakapan antara gue si Anak Gadis (AG) dengan nyokap gue si Nyokapnya Gadis (NG):
AG: Mah, knapa si mah orang bisa memutuskan untuk menikah sama pasangannya?
NG: Ya, karena udah YAKIN.
AG: Haah, YAKIN gimana si? Bukan karena SEKS apa gimana gitu?
NG: Yaaahh…kalo jaman sekarang sih kalo mau ngeSEKS sih ngga usah nikah juga bisaaa,hahahhaha. EH TAPI KAMU JANGAN GITU LHO.

Iya, gue tau informasi yang diberikan nyokap gue ngga memberi nilai tambah atas permasalahan yang ada di tangan selain:
1. YAKIN itu PENTING.
2. SEKS bisa saja dilakukan SEBELUM menikah. Jadi seks bukan alasan utama kenapa orang harus menikah.
3. Gue ngga boleh melakukan poin ke 2.

Gue mulai sadar sepenuhnya kenapa gue belom menemukan “The One” itu adalah karena gue BELUM YAKIN. Sebaliknya, gue juga belum menemukan orang yang YAKIN sama gue. Dan yang parah adalah, gue dari tadi ngomongin yakin-yakin mulu nih, tapi sebenarnya gue masih belum bisa mendefinisikan: APA SIH SEBENERNYA YANG DIMAKSUD DENGAN KEYAKINAN PADA SESEORANG?

That’s the one million dollar question, baby.
And you still have the chance phone a friend, ask the audience, or do the 50:50 option.
Or, you might just walk away, yet you can still bring the five hundred thousand dollars back home.

Umur gue masih dua puluh tahun. Jalan masih panjang.
I really should stop fussing and sweat about those stuff.
Bukankah saat ini ada hal yang harusnya bikin gue jauh lebih panik: satu skripsi, satu tulisan, tiga tugas kuliah, dan jemuran yang harus segera diangkat karena sekarang hujan?


*dimuat juga di notes Facebook

2 commentaires:

galih a dit…

hehehe..i like it..
iya yah.. kenapa orang bisa yakin ya?
gw sendiri juga masih belum bisa nentuin..hahaha
tapi ada tips bagus nih dari senior..
katanya kalo udah tahap memilih siapa yang jadi pasangan hidup kita.. bismillah aja.. gak usah terlalu banyak pertimbangan yang ribet.. karena jika sudah komitmen.. maka tingkat kedewasaanlah yang jadi pagar-nya.. gak semuanya selalu indah.. bener gak.. tapi ya itu.. kalo ikatan komitmen sudah kuat dan dilandasi oleh iman yang kuat.. maka semuanya akan terasa mudah dan berkah..hohoho..

ya wiss.. mampir juga ke blog gw ya..

nona.karin a dit…

bachh!! lo masih mending lan, lihatlah gue. tau kan seberapa parahnya gue dalam menentukan pilihan? 3 tahun nggak bisa meyakinkan hati. fiuhh!! nanti aja lah kalo udah kepepet 'umur', hahahaha