lundi 27 octobre 2008

ego

Ego kami masing-masing sungguh besar.
Dan memang cukup lama telah dirasakan ketidakcocokan dan ketidakmampuan kami untuk bersinergi satu sama lain.
Jadi, kami memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang bahkan tidak pernah dimulai ini.
“Sebaiknya tidak ada ‘besok’ bagi kita,” katanya.
Ya, saya juga setuju. Tapi kamu tidak pernah memberikan kesempatan bagi saya untuk mengatakannya.
Baiklah, dengan begitu saya juga tidak perlu menunggu. Tidak perlu lagi berharap.
Kita masih muda, dan nyatanya sama-sama belum dewasa.
Faktanya, kita, ah lebih tepatnya, kamu, tidak (atau belum) berniat mengakhirinya seperti selayaknya sebuah hubungan harus berakhir.
Hubungan fiktif ini dibangun dan dikonstruksikan secara harmonis dan aku harap—jika harus, dan memang kenyataannya begitu—berakhir, maka sebaiknya itu adalah sebuah happy ending.

Tidak,bagi saya happy ending tidak harus selalu berarti sang tokoh utama harus berakhir hidup bahagia bersama significant other-nya.
Happy ending bisa saja merupakan situasi dimana masing-masing tokoh berhasil menemukan jalan mereka masing-masing to move on, with no hard feelings for each other or anyone else.

Well, there's one for sure.
We both knew that we’re not ready for a new relationship.

1 commentaires:

Ratie a dit…

nice writing.. :) And keep your head up,girl..! Btw,I add you on plurk! Di-approve yah lanaaa... Miss you! Dah lama ga maen kesini! ;D