This is the best part of today.
Ya, duduk di depan laptop ditemani sebatang rokok, secangkir kopi hitam tanpa gula—yep, I prefer it bitter—serta diiringi suara hujan yang menitik di atas genting.
*jadi kaya lagu bocah, minus laptop, kopi dan rokoknya.
Dan ya, bagi teman-teman saya yang akan mengomeli saya panjang lebar setelah membaca posting-an ini: I guarantee you, there’ll be no more cigarettes. At least for this month. You all know I’m not a frequent smoker though.
Hari ini saya tidak ke kampus. Tidak pula ke kantor.
Saya memulai pagi dengan meng-copy beberapa film ke laptop: Lock, Stock, and Two Smoking Barrels; Michael Clayton; dan, oui, Persepolis.
Ah…j’aime bien Persepolis. A must watch.
Lalu teringat ada titipan yang harus dibawa ke Depok, jadi kemudian saya pergi ke Pasar Beringharjo bersama Mba Reni—teman kost.
Dari Pasar Beringharjo terlihat banyak iring-iringan orang, kegaduhan yang tidak biasa, bahkan menjumpai beberapa teman dari FMN—Forum Mahasiswa Nasional—melakukan semacam aksi demonstrasi di Malioboro.
Okay, so there’s this event: PISOWANAN AGENG.
Inilah klimaks dalam rangka menyambut ulang tahun kota Yogyakarta.
Bagian dimana Sultan “sowan” kepada rakyatnya, dan biasanya diakhirii pidato dari Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Menyesal karena lupa ada event yang begitu penting yang seharusnya dapat diabadikan dalam kamera SLR Mba Reni, kami toh ikut dalam keramaian dan bergegas menuju Alun-Alun Utara.
Hari ini menjadi hari dimana Sultan akan menyampaikan hal yang sangat penting, tidak hanya bagi dirinya, bagi kota ini,atau bagi masyarakatnya, tetapi juga bagi (dunia perpolitikan) Indonesia.
Teriakan-teriakan itu berkoar di alun-alun.
Yogyakarta adalah istimewa!
Hidup Sultan!
Sultan untuk Indonesia!
Baru kali itu saya melihat: sebuah kota dimana masyarakatnya begitu mencintai pemimpinnya.
Begitu mencintai dan menghormati figur tersebut.
Dan betapa pemimpin mereka pun terlihat sangat mencintai kota dan masyarakatnya.
Mendung begitu gelap.
Bau tanah yang lembap pun menguar karena akhirnya turun hujan—walaupun sangat rintik—di Alun-Alun Lor siang itu.
Pidato hanya berlangsung singkat. Mungkin tidak sampai 10 menit.
Pidato yang menekankan secara eksplisit: Ngarsa Dalem Sri Sultan HB X akan maju dalam pemilihan presiden 2009 mendatang.
Pidato yang diakhiri tepuk tangan yang massif dari para hadirin di alun-alun itu, disertai pekik-pekik:
“Hidup Sultan!”
“Hidup Yogyakarta!”
“Hidup Indonesia!”
Begitu Sultan turun dari panggung dan orang-orang berbalik meninggalkan alun-alun, tidak butuh waktu lama untuk hujan turun dengan derasnya.
Saya pun pergi, dengan sebuah beban pikiran.
Tapi tidak akan saya katakan, setidaknya tidak sekarang.
Malam ini dingin karena hembusan angin yang turut dibawa oleh hujan yang turun.
Cangkir saya sudah kosong, rokok saya pun habis.
Kali ini hanya tersisa saya, hujan, laptop, dan vokal Robert Smith di lagu Just Like Heaven.
It’s still the best part of today.
And it’s seven minutes before tomorrow.
mardi 28 octobre 2008
the best part
Inscription à :
Publier les commentaires (Atom)





3 commentaires:
Hmmm.. I feel like I want some ciggy now! Huhu.. Lana seeehh.. Haha.. Semenjak nikah saya blm sentuh2 lagi batang2 putih nan menggoda itu. Tapi skrg pengen.. Doh!!
Anyway, kinda admire the Sultan from what you've write. That is the true leader. Salute!
Btw, Persepolis baguss!! It's so naive tapi menusuk gtu.. WAW!
Lanaaa minta persepoliss...
yang film kartun prancis itu kan??
Enregistrer un commentaire